Bagaimana Dan Siapa Yang Terlibat Dalam Proses Belajar

By | February 22, 2019

Bagaimana Dan Siapa Yang Terlibat Dalam Proses Belajar

Bagaimana Dan Siapa Yang Terlibat Dalam Proses Belajar

Bagaimana Dan Siapa Yang Terlibat Dalam Proses Belajar

Pertanyaan pengumpan audiens :

Siapa yang bisa melakukan renge ela penti?’ Jika bisa, kenapa? Jika tidak bisa, kenapa? Akankah kita mampu melakukannya?

Salah satu sifat dan kemampuan dasar manusia adalah cenderung meniru dan mengubah perilaku berdasarkan perilaku/perbuatan orang lain yang telah disaksikannya, atau berdasarkan pengalamannya. Ada suatu ungkapan yang penting dihayati: “saya mendengar, saya ingat kemudian saya lupa, saya melihat dan saya meniru, saya melakukan, saya ingat dan saya mengerti”. Ini berarti, ada baiknya siswa/anak didik dengan memberi contoh perbuatan nyata atau siswa/anak dituntun untuk melakukan. Hal inilah yang membuat kebanyakan anak tani hobi bertani dan sulit melepaskan karakter bertaninya. Anak pebisnis sukses jadi pebisnis, anak tukang kayu sukses menjadi tukang kayu juga, dan sebagainya. Hal ini pula yang mendasari penggunaan alat peraga dalam urusan pendidikan formal.

 

Cara belajar terbaik adalah

Belajar dengan melakukan atau belajar dengan pelibatan diri seutuhnya dalam urusan yang ingin dikuasai. Jika ingin menjadi pemimpin, maka bergabunglah dalam suatu organisasi dan berani mengemban tugas tertentu/menjalankan kegiatan yang diatur organisasi tersebut. Misalnya menjadi pengurus seksi tertentu. Dengan pelibatan diri seutuhnya, kemampuan dan karakter akan ditempa, dibangun dan dikembangkan. Berdasarkan pengalaman bekerja dalam tim, seorang akan bisa naik ke level selanjutnya, bahkan bisa memimpin suatu organisasi. Hal ini dapat kita pahami antara lain pada: (1) system kaderisasi dalam partai politik, (2) system pertimbangan jabatan dan kepangkatan dalam birokrasi, (3) system senioritas dalam TNI/Polri, (4) syarat pengalaman dan kemampuan tertentu dalam perekrutan tenaga kerja.

 

Di sini, seorang yang ingin sukses belajar harus melakukan apa yang dipelajarinya

Bukan sekedar mendengar apalagi menonton. Harus ada tekad dan kemauan kuat untuk mempraktekkan teori yang dipelajari atau berani menangani suatu urusan dengan melibatkan diri secara langsung, berpartisipasi secara langsung. Dengan pelibatan diri dalam suatu urusan, maka timbullah pengalaman. Siswa/anak akan tahu, apa kelemahan dan apa keunggulan suatu cara kerja. Selanjutnya dapat menyusun strategi kerja berdasarkan pengalaman. Struktur Isi Teks Laporan Hasil Pengamatan Adalah

Peran orang tua/pendidik dalam upaya belajar anak/siswa adalah sebagai penuntun, pembimbing, atau pemberi teladan/contoh. Namun, orang tua/pendidik juga bisa belajar dari apa yang dilakukan anak/siswanya. Hal inilah yang mendasari adanya penelitian tindakan kelas: guru menentukan tindakan pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan pada apa yang terjadi pada siswa. Secara umum, peran narasumber adalah memberi contoh/teladan kepada orang yang dididik/diberi pelajaran.

 

Belajar identik dengan pendidikan

(baik formal, informal, maupun nonformal. Menurut Langeneld pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak dengan tujuan mendewasakan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Apa yang dirumuskan dalam UU Sisdiknas, sejalan dengan pikiran filsuf terkenal J.J. Rousseau (1712-1778) bahwa pendidikan memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.

Di sini, dibutuhkan kesabaran dan kejelian orang tua/pendidik untuk membelajrkan anak/siswa. Orang tua harus memiliki pengetahuan, ilmu dan pemahaman yang cukup tentang ‘apa bagaimana itu belajar’. Orang tua sebaiknya berdiskusi, sharing pengalaman agar dapat mengembangkan upaya pembelajaran terhadap anaknya.

Bagi anak/siswa, harus mau dicontohi, mau diayomi dan mau melakukan sesuai instruksi pendidik, agar memperoleh penagalaman, mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Akan terjadi pertimbangan untuk melakukan hal terbaik demi kesuksesan.

Jika ada perbuatan mendidik, maka harus ada pendidiknya. Pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik. Siapa saja pendidik itu?

  • Guru,
  • Orang tua,
  • Masyarakat,
  • Siswa itu sendiri (mendidik diri sendiri atau sejawat)

Karena itu, belajar dapat dilakukan di mana saja, menimba ilmu dari siapa saja.