Jenis Variasi Bahasa

By | May 29, 2019

Jenis Variasi Bahasa

Jenis Variasi Bahasa

Jenis Variasi Bahasa

Abdul Chaer dan Leoni Agustina (1995: 82)

Menyatakan bahwa Jenis variasi bahasa dibagi menjadi empat, yaitu: (1) Segi penutur, (2) Segi pemakaian, (3) Segi keformalan, dan (4) Segi Sarana. Dilihat dari segi penutur, variasi bahasa meliputi idiolek, dialek, kronolek, dan sosiolek. Sosiolek ini terdiri dari akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argon, dan ken. Menurut Martin Joos ( dalam Abdul Chaer dan Leoni Agustina (1995: 92) membagi variasi bahasa menjadi lima macam, yaitu ragam beku, ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, dan ragam akrab.

Maryono Dwi Raharjo (1996: 59-60)

Menyatakan bahwa variasi bahasa mempunyai tipe idiolek, dialek, ragam bahasa, register, dan tingkat tutur (speech levels). Tipe variasi bahasa dapat dijelaskan berikut ini, Pertama, idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat individual, maksudnya sifat khas tuturan seseorang berbeda dangan tuturan orang lain. Kedua, dialek merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh perbedaan asal penutur dan perbedaan kelas sosial penutur. Oleh karena itu, muncul konsep dialek geografis dan dialek sosial (sosialek). Ketiga, ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya perbedaan dari sudut panutur, tempat, pokok tuturan, dan situasi. Dalam kaitannya dengan itu dikenal adanya ragam bahasa resmi (formal) dan ragam bahasa tidak resmi (santai, akrab). Keempat, register merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya sifat-sifat khas keperluan pemakainya, misalnya dalam bahasa tulis dikenal adanya bahasa iklan, bahasa tajuk, bahasa artikel, dan sebagainya; dalam bahasa lisan dikenal bahasa lawak, bahasa politik, bahasa doa, dan sebagainya. Kelima, tingkat tutur merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya perbedaan anggapan penutur tentang relasinya (hubungannya) dengan mitra tuturnya.

Mengenai variasi bahasa, Soepomo Poedjosoedharmo (1983: 175-176)

Juga mengungkapkan tiga kelas varian bahasa. Varian-varian tersebut mencakup : (1) Dialek yang berupa idiolek dan dialek (geografi, sosial, usia, jenis, aliran, suku, dan lain-lain); (2) Undha-usuk (hormat, non hormat), dan (3) Ragam (santai, resmi, dan indah).
Hartman dan Strok (dalam Abdul Chaer dan Leoni Agustina, 1995:82) membedakan variasi berdasarkan kriteria: (a) latar belakang geografis dan sosial penutur, (b) medium yang digunakan, (c) pokok pembicaraan. Menurut Mc David (dalam Abdul Chaer dan Leoni Agustina, 1995: 81-82) membagi variasi bahasa berdasarkan (a) diemensi regional, (b) dimensi sosial, dan (c) dimensi temporal

Faktor-faktor sosial dan faktor-faktor situasional

Dalam pemakaian bahasa menimbulkan variasi bahasa. Variasi bahasa adalah ragam bahasa yang masing-masing mempunyai bentuknya sendiri, tetapi secara keseluruhan mirip atau pola dasar bahasa mula atau bahasa induknya (Sibarani, 1992:58). Faktor sosial dan faktor situasional memungkinkan penuturnya menggunakan variasi bahasa karena yang baik atau yang komunikatif haruslah sesuai dengan sosiosituasionalnya.
Abdul Chaer dan Leoni Agustina (1995: 82) menambahkan bahwa variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan penutur dan penggunaannya. Berdasarkan penutur berarti siapa yang menggunakan bahasa itu, di mana tempat tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya di dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakan. Berdasarkan penggunaannya berarti bahasa itu diguanakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya, dan bagaimana situasi keformalannya.
Variasi bahasa yang berkenaan dengan daerah atau letak geografis disebut dialek. Variasi bahasa berkenaan dengan kelompok atau keadaan sosial pemakainya disebut sosiolek. Variasi bahasa yang ditentukan oleh fungsi penggunaan dan profesi penggunanya disebut fungsiolek atau profesiolek, atau register (Abdul Chaer dan Leoni Agustina, 1995:84).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jenis variasi bahasa berkenaan dengan penutur dan penggunaanya secara kongkret. Jenis variasi bahasa berurusan dengan suatu bahasa, baik yang memiliki repertoir suatu masyarakat tutur maupun yang dimiliki oleh sejumlah masyarakat tutur.