Kebudayaan Lembah Indhus

By | July 12, 2019

Table of Contents

Kebudayaan Lembah Indhus

Istilah kebudayaan atau culture dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses gagasan., tindakan dan hasil karya manusia di dalam rangka kehidupan penduduk yang dijadikan milk diri manusia dengan belajar. Dari definisi berikut terdapat unsur-unsur kebudayaan universal yang disusun oleh sejumlah pakar antropologi menyimpulkan bahwa tersedia tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan terhadap semua bangsa di dunia. Koentjaraningrat menegaskan tujuh unsur kebudayaan, yaitu; bahasa, proses pengetahuan, organisasi sosial, proses peralatan hidup dan teknologi, proses mata pencaharian hidup, proses religi dan kesenian.

Peradaban Lembah Indhus menurut para arkeolog dulu terjadi di lembah Sungai Indhus sejak lebih kurang 3.000 sampai dengan 500 S. M, sering disebut zaman Chalcolithichum. Peninggalan di berbagai kota ini udah mengakibatkan perhatian ahli-ahli barang kuno, saat India masih di dalam kekuasaan Pemerintahan Inggris jadi dirintis penggalian kota yang terpendam tersebut. Kerjasama para arkeolog itu dipimpin oleh pakar purbakala Inggris Sir John Marshall dibantu oleh R. D. Bannerji. Hasil kerja penggalian kota dan membaca peninggalan peradaban ini diharapkan dapat menambah mengakses tabir Zaman purba peristiwa India. Konsentrasi penggalian bekas kota di pinggir sungai Indhusk, pada lain: Harappa, Mohenjo-daro dan Chanhu-daro. Mereka mengatakan bahwa kebudayaan itu hasil kerja bangsa berbahasa Dravida yang udah hidup menetap ikuti gramma (aturan desa).

Dari pengalian sejak 1925 di bekas kota Mohenjo-daro (RC. Majumdar dkk, menyebutnya Mound of the dead, kini terdapat didaratan rendah Larkana), diketemukan pada lain:

Meterai-meterai berhuruf, dianggap untuk sarana menjauhkan bahaya. Namun para pakar peristiwa dan epograf belum dapat membaca seal tersebut.
Bangunan bekas rumah yang udah punyai pintu, ukiran batu bata yang serupa dan diketemukan bangunan bekas pengairan yang udah tertata rapi, proses drainage kota. Mereka udah memanfaatkan alat-alat dari batu dan tembaga. Hal ini memperkuat bahwa warga penduduk udah mengenal dan memanfaatkan api.
Perhiasan barang mewah memperlihatkan keindahan berupa kalung, gelang, anting-anting terbuat dari emas dan perak. Alat-alat rumah tangga, permainan anak-anak udah dihiasi dengan seni gambar dan seni ukir yang indah ( perhatikan sisa reruntuhan kota Mohenjo-daro, patung pendeta di Mohenjo-daro dan Harappa, dan Dewi Alam). Mereka udah mengenal proses cetak bivalve atau a cire perdue. Pakar peristiwa berkebangsaan India R. C .Majumdar, dkk (1967) memuji tempat Mohenjo-daro ini benar-benar subur.
Mereka udah mengenal binatang peliharaan seperti: gajah, unta, kerbau dan anjing. Menurut pakar prasejarah anjing dipercayai sebagai binatang pertama kali diternakan oleh manusia. Dari hasil penggalian lapisan terbawah dikemukakan barang-barang yang kualitasnya serupa dengan lapisan diatasnya.

Dari penggalian di Harappa (daerah Punyab, lebih kurang 600 km utara kota Mohenjo-daro) diketemukan, pada lain:
Arca-arca yang punyai nilai seni memiliki kwalitas tinggi. Di antaranya menunjukan seorang pemuka agama yang nampak kegemukan. Pemuka agama ini nampak tengah bersamadi dan ke-2 mata mengarah ke satu titik. Penemuan lain berupa patung torco di dalam posisi tengah menari, bahan terbuat dari tanah kapur.
Ukiran-ukiran kecil tebuat dari terracotta dengan berbagai bentuk, apabila bentuk wanita telanjang dengan dada terbuka.
Penghuni kota Harappa udah mengenal memasak, terbukti ada peninggalan alat dapur terbuat dari tanah liat, perikuk-periuk dan pembakaran batu bata. Pembakaran batu bata ditujukan sehingga cukup keras, kuat dan baik. Namun keistimewaannya mereka perhatikan ukuran yang sama.
Arca-arca yang melukiskan manusia, lembu menyerang harimau, lembu bertanduk satu dan binatang angan-angan yang disucikan. Arca-arca ini memperlihatkan tingginya teknologi peradaban penduduk Harappa.

Sir John Marshall sebagai pemimpin penggalian benda-benda purbakala mengakibatkan analisa bahwa yang diketemukan di bekas kota Harappa dan Mohenjo-dero, ternyata juga serupa dengan yang diketemukan di berbagai kota di sepanjang sungai Indhus, juga di Tanjo-daro. Sedangkan RC Majumdar, dkk (1967:16) memberi tambahan deskripsi perihal kota baik perihal bangunan, ukuran dan kelengkapan rumah hunian.

Dari pengakuan RC Majumdar berikut memperlihatkan betapa tingginya peradaban kota, tidak cuman udah terencana dengan baik terbukti: bangunan perumahan yang besar, bahan batu bata, proses kamar, apalagi punyai sumur, kamar mandi, saluran pengeringan dan ventilasi (jendela).

Dari penemuan berikut dapat diulas lebih tertentu lagi, pada lain;
Bangunan perkotaan udah terancang dengan rapi, bentuk “bulat” (sudah terencana dan tertata rapi), dengan ciri kota: jalur lurus, rumah menghadap ke gang/ jalan, dan perhatikan kebersihan kota. Unsur kota ( pemerintahan, tanah lapang, pusat ibadah, pasar dan penjara). Sudah terpenuhi disejumlah kota ditepi sungai Indhus. Prof. Dr. Sartono kartodirdjo di dalam bukunya “Masyarakat Kuno dan Kelompok-kelompok Sosial” melengkapi pendapat kota itu dengan keterangannya kota Harrapa dan Mohenjo-daro dibangun berdasarkan tata kota yang serupa dengan kota Athena.
Bangsa Dravida udah hidup menetap ikuti pemerintahan ketetapan desa (gramma), bercorak kesukuan, paternalistik dengan mata pencaharian utama bertani.
Sudah mengenal keyakinan agama ibuan, berpendapat tinggi dan setaraf dengan peradaban di Mesopotamia dan Mesir.
Peradaban bangsa Dravida disebut berperadaban pra-Hindu. Terbukti saat itu udah dikenal atau udah disebut-sebut perihal Syiwa Lingga, Syiwa Pemburu, Syiwa Pasopati, dan wanita serupa Dewi Parwati di dalam agama Hindu.

Sekitar 500 S. M dianggap kota hasil peradaban bangsa Dravida runtuh. Tentang runtuh atau hilangnya kebudayaan Lembah Indhus dapat diajukan beberapa teori, pada lain:
Di tempat Punyab diketemukan air berkadar garam cukup tinggi, yang dianggap sebagai penyebab runtuhnya bangunan pemukiman. Dengan terjadinya erosi mengakibatkan warga bangsa Dravida ‘meninggalkan’ peradaban di lembah Indhus.
Ahli geografi N. Daldjoeni menduga udah terjadi penebangan liar di lereng Himalaya, berakibat terjadi erosi dan sukses menimbun share kota di lembah Indhus. Akibat selanjutnya pemukiman dan juga peradabannya musnah.
Sudah Indhus berulang kali kali banjir, berakibat sejumlah kota di pinggir sungai Indhus terendam dan sesudah itu tertimbun lumpur.
Dari penggalian bangunan perkotaan yang berlapis tujuh di tempat yang serupa dan juga dikemukakan sejumlah kerangka jenazah yang berserakan dengan berbagai ukuran, memperlihatkan dulu terjadi pembantaian. Diduga bahwa penyebabnya adalah masuknya bahasa Sanskerta (sering disebut Bangsa Indo Arya) terhadap saat zaman Weda (1500-500 S. M. yang dipercayai umat Hindu baru terjadi penulisan Caturweda). Kota yang berbenteng dan punyai persediaan air (di anggota Barat kota) itu ditinggalkan orang Dravida untuk pindah ke tempat Dekkan. Sementara itu wanita-wanita Dravida tersedia yang diambil istri oleh orang Indo Arya dan dari perkawinan itu menurunkan orang India.

Baca Juga :