Penatalaksanaan dalam Laboratorium

By | March 29, 2019

Penatalaksanaan dalam Laboratorium

Penatalaksanaan dalam Laboratorium

Penatalaksanaan dalam Laboratorium

  1. Tindakan gawat darurat

 
Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas yang ditandai dengan :

  • Perdarahan semakin bertambah banyak,
  • Penderita syok
  • Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi
  • Gawat janin

Kondisi di atas menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera diambil adalah memasang infus, kalau perlu dipasang dua jalur, sekaligus mengambil contoh darah sebagai persiapan untuk bahan pemeriksaan laboratorium dan permintaan darah sebagai persiapan untuk tranfusi.

B. Terapi ekspektatif

Pada umumnya bila berdasarkan gejala klinis sudah diduga adanya solusio plasenta, maka tidak pada tempatnya untuk melakukan satu tindakan ekspektatif.

C. Persalinan Pervaginam

 
Indikasi persalinan pervaginam HANYA dilakukan bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir.
Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan, maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk :

  • Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu yang menyebabkan DIC)
  • Merangsang persalinan ( pada janin imature, tindakan ini tak terbukti dapat merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka servik)
  • Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera diikuti dengan tanda-tanda persalinan.
  1. Seksio sesar

 
Seksio sesar pada saat ini lebih banyak dipilih, jika kecurigaan terjadinya solusio plasenta telah dibuat. Hal ini dimaksudkan untuk dapat dengan segera menghindarkan kemungkinan terjadinya komplikasi atau hal-hal yang lebih buruk, baik pada sang ibu ataupun mungkin bagi bayinya.

Meskipun demikian tindakan seksio sesar bisa saja baru dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam waktu singkat, misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3 – 4 cm.

Atas indikasi ibu, meski janin telah mati, bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan seksio sesar pada kasus solusio plasenta.

 

(Sumber: https://dosen.co.id/)