Sistem Pendidikan Islam Dalam Perspektif Sejarah

By | September 19, 2018

Sistem Pendidikan Islam Dalam Perspektif Sejarah

Sistem Pendidikan Islam Dalam Perspektif Sejarah

Sistem Pendidikan Islam Dalam Perspektif Sejarah

Abstrak: Secara historis, pendidikan Islam pernah mengalami masa stagnasi terutama pada saat runtuhnya Dinasti Abbasiah pada tahun 1258 M. Masa stagnasi inilah yang memicu para ulama dan pemikir-pemikir Islam untuk melakukan pembaharuan pada seluruh aspek kehidupan ummat Islam, khususnya pendidikan Islam sebagai salah satu variabel pembaharuan. Pada saat ini muncul beberapa pola pendidikan Islam, diantaranya pola pendidikan yang berorientasi kepada pendidikan barat dan berorientasi kepada pemurnian ajaran Islam. Dari pola inilah muncul sistem penyelenggaraan pendidikan Islam yang berbeda-beda pula tergantung kepada politik pemerintah dalam menerapkan pendidikan pada saat itu. Mungkin pola dan sistem ini bisa kita jadikan sebagai tolak ukur atau cermin dalam upaya pengembangan Pendidikan Islam saat ini dan masa yang akan datang.

I. Pendahuluan.
Perkembangan Pendidikan Islam bila ditinjau dari segi historis, sudah barang tentu seiring dengan perkembangan ajaran agama Islam di atas permukaan bumi ini. Hal ini sesuai dengan dogma yang ditanamkan bahwa, pendidikan dan pengajaran adalah merupakan suatu kewajiban yang tegas-tegas menjadi ketentuan dalam Islam bagi pemeluk-pemeluknya sehingga karenanya sebagai conditio a sine qua non yang harus dilaksanakan oleh ummat Islam tanpa kecuali. Maju dan mundurnya, rebah dan bangunnya, besar dan kecilnya, peranan Islam sangat tergantung pada berhasil tidaknya pendidikan dan pengajaran yang dilaksanakan. Tetapi apa yang dihasilkan oleh pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah Islam baik tingkat rendah sampai dengan perguruan tinggi, swasta maupun negeri, masih sangat jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum lainnya.

Di sini bukan maksud kita mencari kambing hitam dan mengungkap masa lalu tentang proses perkembangan pendidikan dan pengajaran baik kualitatif maupun kuantitatif dengan segala komplikasi-komplikasi yang mengiringinya, karena situasi politik dan kondisi sosial pada waktu itu. Tetapi kini telah tiba saatnya bagi kita dengan penuh kesadaran, ketekunan dan kesungguhan disertai penuh rasa tanggung jawab untuk mengadakan intensifikasi dan ekstensifikasi kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan pengajaran sesuai dengan fungsi dan proporsinya semula, sehingga benar-benar merupakan pengabdian bagi pengembangan ilmu pengetahuan bagi agama di tengah-tengah pembangunan bangsa dan agama.

Sekarang ini terasa sangat perlu memperdalam pemahaman mengenai pengertian masa lampau, meneliti kembali sistem yang dipergunakan oleh para penyelidik dan cendikiawan Muslim zaman dahulu itu, mempertimbangkan hasil-hasil pembahasan dan pemikiran mereka dalam cahaya keislaman dan dalam hubungan dengan peristiwa-pristiwa yang melingkari hidup mereka pada masa itu.

Warisan kebudayaan dan pemikiran masa lampau kaum Muslimin beraneka ragam bentuk dan coraknya dan berbagai macam tingkatannya. Demikian pula masa kini yang dihadapi ummat Islam adalah masa kini dengan ciri-cirinya yang khas pula. Untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam, kita harus mengadakan kesejajaran dalam mempelajari masa lampau dan masa kini. Cikal bakal hari ini adalah masa lampau dan gambaran kita masa yang akan datang tergantung persiapan kita hari ini.

Oleh karena itu, dalam makalah ini kita mencoba mengkaji sejarah masa lalu pendidikan Islam, khususnya pada masa pembaharuan, baik itu dari segi pola-pola pembaharuan, maupun sistem yang pernah ada pada masa tersebut, dengan terlebih dahulu memaparkan hermeneutika pembaharuan, latar belakang terjadinya pembaharuan dan hubungan pendidikan dengan pembaharuan.

Dengan mengkaji kembali permasalahan tersebut diharapkan dapat menambah inspirasi dalam menentukan kebijakan pendidikan Islam kedepan dan tidak terulang kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di masa lampau. Ulama salaf menyatakan bahwa “memelihara yang lampau yang baik dan mencari yang terbaik di masa sekarang”.


II. Pembahasan.
A. Hermeneutika Pembaharuan.

Dalam kalangan terdidik (intelektual) kata modernisme atau modernisasi, yang diambil dari kata modern (Inggris) selama ini sangat populer. Ungkapan kata itu akan mengaitkan pada makna-makna tertentu yang bisa sama tetapi bisa juga berbeda sesuai aksentuasi masalah, tujuan dan asumsi peristilahan yang digunakan terutama dalam pengambilan istilah tersebut. Modern dalam peristilahan Arab dikenal dengan kata Tajdid yang artinya dalam bahasa Indonesia disebut Pembaruan.dalam konteks pemikiran modern Islam, ia merupakan suatu wacana yang mengawali perubahan mendasar bagi Islam sebagai suatu nilai ajaran dan ummatnya sebagai pembuat arus perubahan tersebut.1

Modernisme dalam khazanah masyarakat Barat mengandung makna pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulhan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. 2

Ensiklopedi Islam Indonesia edisi bahasa Indonesia, menggunakan istilah pembaharuan bukan modernisme. Pengertian ini secara garis besar mengandung arti upaya atau aktivitas untuk mengubah kehidupan ummat Islam dari keadaan-keadaan yang sedang berlangsung kepada keadaan baru yang hendak diwujudkan; ia juga berarti adanya upaya untuk kemaslahatan hidup ummat Islam baik didunia maupun diakhirat sesuai dengan garis-garis pedoman yang ditentukan oleh Islam. kalau upaya pembaharuan itu melanggar ajaran dasar atau tidak sesuai, maka pembaharuan itu tidak bisa disebut pembaharuan dalam Islam; bahkan merupakan pembaharuan diluar Islam. 3

Pemikiran modern atau pembaharuan dalam Islam mengandung adanya transformasi nilai yang mesti berubah bahkan adakalanya diperlukan perombakan-perombakan terhadap struktur atau tatanan yang sudah ada dan dianggab baku, sedangkan nilai-nilai tersebut tidak mempunyai akar yang kuat berdasarkan sumber-sumber pokoknya Al-Qur’an dan Hadits. Tanda-tanda perubahan itu terlihat secara transparan misalnya dari statis menjadi dinamis, dari tradisional-ortodoks menjadi rasional–ilmiah, dari fanatik menjadi luwes-demokratis dan seterusnya. Disini titik tekan pemikiran modern atau pembaruan mengandung istilah gerakan dan reformasi terhadap ajaran-ajaran Islam yang tidak sesuai dengan orisinalitas Al-Qur’an dan Hadits baik dalam interpretasi tektual maupun kontektual.

Untuk menghilangkan kerancuan dan hal-hal yang membingungkan dalam penggunaan ungkapan tersebut, Harun Nasution 4 lebih cendrung menggunakan kata pembaharuan, dan dalam istilah baku bahasa Indonesia ditulis pembaruan. Baik modernisme atau pembaruan sebagai istilah yang digunakan dalam tulisan ini mempunyai makna yang sama.


Sumber : www.gurupendidikan.co.id