Sosialisasi dan Kepribadian

By | July 5, 2019

Sosialisasi dan Kepribadian

Sosialisasi dan Kepribadian

Sosialisasi dan Kepribadian

 

 Sosialisasi

1. Definisi Sosialisasi
Terdapat beberapa definisi sosialisasi menurut Kamus besar bahasa Indonesia dan para ahli sosiologi seperti berikut ini.
a. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sosialisasi berarti suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.
b. Peter L. Berger
Sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
c. Paul B Horton
Sosialisasi adalah suatu proses di mana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
d. Vander Zande
Sosialisasi adalah proses interaksi sosial dimana kita mengenal cara-cara berpikir, berperasaan dan berperilaku sehingga dapat berperan serta secara efektif dalam masyarakat
e. David A Goslin
Sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota dalam kelompok masyarakatnya.

Dapat disimpulkan bahwa melalui proses sosialisasi individu diharapkan dapat berperan sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat dimana ia berada. Individu yang baru dilahirkan bagaikan seonggok daging, hanya sebagai makhluk biologis yang memerlukan kebutuhan biologis seperti minum bila haus, makan bila lapar dan bereaksi terhadap rangsangan tertentu seperti panas, dingin dan lain sebagainya. Setelah berinteraksi dengan individu lain yang berada di sekitarnya, atau dengan perkataan lain setelah mengalami proses sosialisasi barulah individu tadi dapat berkembang menjadi makhluk sosial.

Adapun tujuan sosialisasi adalah sebagai berikut:
• Memberi keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang.
• Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien.
• Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari.
• Membiasakan individu dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat.

 

2. Agen Sosialisasi

Sosialisasi dialami oleh individu sebagai makhluk sosial sepanjang kehidupannya sejak ia dilahirkan sampai meninggal dunia. Karena interaksi merupakan kunci berlangsungnya proses sosialisasi maka diperlukan agen sosialisasi, yakni orang-orang disekitar individu tersebut yang mentransmisikan nilai-nilai atau norma-norma tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Agen sosialisasi dapat diartikan sebagai pihak-pihak yang membantu seorang individu menerima nilai-nilai atau tempat individu tersebut belajar dari segala sesuatu yang menjadikannya dewasa. Secara rinci agen sosialisasi yang utama adalah keluarga, kelompok bermain, sekolah, lingkungan dan media massa.

 

a. Keluarga

Anak yang baru lahir, mengalami proses sosialisasi pertama kali adalah di dalam keluarga. Dari sinilah pertama kali anak mengenal lingkungan sosial dan budayanya. Anak mulai mengenal seluruh anggota keluarganya, yakni ayah, ibu, dan saudaranya sampai anak mengenal dirinya sendiri serta menaati norma-norma yang berlaku dalam keluarga. Dengan demikian, diharapkan akan terbentuk keluarga yang harmonis.
Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi manusia. Hal ini dimungkinkan karena keluarga memiliki berbagai kondisi sebagai berikut.
1) Keluarga merupakan kelompok primer yang selalu bertatap muka di antara anggotanya. Di antara anggotanya dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggota yang lain.
2) Orang tua mempunyai kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya sehingga menimbulkan hubungan emosional yang sangat diperlukan dalam proses sosialisasi.
3) Adanya hubungan sosial yang tetap maka dengan sendirinya orang tua mempunyai peranan yang penting terhadap proses sosialisasi anak.

Corak hubungan orang tua dengan anak yang akan menentukan proses sosialisasi serta perkembangan kepribadiannya dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu pola menerima-menolak, memakai-melepaskan, dan demokrasi-otokrasi.

1) Pola menerima-menolak
Pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam pola menolak akan cenderung bersikap menantang kekuasaan dan selalu curiga terhadap orang lain. Anak sudah tidak takut lagi terhadap hukuman karena sudah terlalu sering mendapat hukuman dari orang tuanya.

2) Pola memiliki-melepaskan
Pola ini didasarkan atas besarnya sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang over protektif sampai mengabaikan anaknya sama sekali. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut pola memiliki-melepaskan, cenderung berwatak tidak patuh, tidak dapat menahan emosi, dan menuntut orang lain secara berlebihan, pemalu, cemas, dan ragu-ragu.

3) Pola demokrasi-otokrasi
Pola ini didasarkan atas tingkat partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pada pola otokrasi, orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak. Dalam pola demokrasi-otokrasi anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga sampai batas-batas tertentu.
Dalam keluarga yang demokratis, anak akan berkembang lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya, dalam keluarga otokrasi, anak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus diikuti sehingga anak akan tunduk secara membabi buta atau bahkan bersikap menantang.

 

b. Kelompok Bermain (peer group)

Kelompok bermain merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola perilaku seseorang. Di dalam keluarga, interaksi yang dipelajari di rumah melibatkan hubungan yang tidak sederajat (hubungan dengan orang tua, kakek atau nenek, kakak, adik, paman atau bibi). Sementara itu, dalam kelompok bermain, seorang anak belajar berinteraksi dengan orang-orang sederajat atau sebaya.
Di dalam kelompok bermain, individu mempelajari norma, nilai, kultur, peran, dan semua persyaratan lainnya yang dibutuhkan individu untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif di dalam kelompok bermainnya. Dalam kelompok bermain pulalah seorang anak mulai belajar tentang nilai-nilai keadilan.

c. Sekolah

Agen sosialisasi berikutnya adalah sekolah. Sekolah merupakan agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Di sekolah seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga ataupun kelompok bermain. Pendidikan formal di sekolah mempersiapkan anak didik agar dapat menguasi peranan-peranan baru yang dapat diterapkan apabila ia tidak lagi tergantung pada orang tua.

 

d. Lingkungan Kerja

Kelompok lingkungan kerja sangat beraneka ragam, misalnya kelompok pekerja pabrik, kelompok pegawai kantor, kelompok petani, dan kelompok pedagang. Setiap kelompok memiliki aturan-aturan sendiri. Seseorang yang melanggar aturan dapat dikenai sanksi. Melalui peraturan, seseorang mempelajari berbagai nilai dan norma yang harus dipatuhi untuk mencapai tujuan, misalnya meningkatkan disiplin diri dan meningkatkan kerja sama dengan teman. Dalam hubungan sosial di lingkungan kerja, setiap orang harus menjalankan peranan sesuai dengan kedudukannya.

 

e. Media Massa

Media massa juga merupakan agen sosialisasi yang cukup berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Kehadiran media massa mempengaruhi sikap dan tidakan anggota masyarakat. Nilai dan norma yang disampaikan dan disajikan oleh media massa akan tertanam dalam diri seseorang melalui penghilatan ataupun pendengaran.
Informasi melalui media massa dapat bersifat positif atau negatif. Apabila informasi tersebut bersifat positif maka akan terbentuk kepribadian yang positif. Sebaliknya, jika informasi tersebut bersifat negatif maka akan terbentuk kepribadian yang negatif. Media massa sering digunakan untuk mengukur, membentuk dan mempengaruhi pendapat umum.

Sumber : https://situs-pendidikan-online.fandom.com/id/wiki/User_blog:Ahmadali88/Rumus_Balok