Jangan Lebay, Mari Berpikir Kritis

By | September 17, 2019

Jangan Lebay, Mari Berpikir Kritis

Jangan Lebay, Mari Berpikir Kritis

Jangan Lebay, Mari Berpikir Kritis

Kita pernah dengar soal “bumi datar”? Hal yang sangat tidak masuk akal tapi bahkan ada komunitas global untuk orang-orang yang percaya bahwa bumi ini datar. Semakin dibantah, kebanyakan kaum bumi datar malah semakin tidak percaya kalau bumi itu bulat. Apa saja yang membuat otak memberikan “izin” bagi keyakinan untuk mempercayai suatu hal?

Orang marketing dan periklanan paling tahu mengenai hal ini. Informasi diberikan berulang-ulang bisa membuat “izin” itu keluar. Makanya dulu iklan rokok dengan gambar laki-laki “macho” dan “gaul” muncul di mana-mana; televisi, baliho, atau media massa. Sehingga banyak orang setiap hari melihat iklan itu, lalu percaya dan muncul keyakinan kalau tidak merokok, kamu tidak “macho” dan tidak “gaul”.

Setelah keyakinan itu muncul dan mendarah daging, maka apa pun fakta yang diberikan terkait bahaya merokok, mudharatnya kepada mereka yang perokok dan bahkan orang sekitarnya. Semua itu akan menjadi percuma. Alias lewat sambil lalu saja. Perokok akan tetap merokok dan meyakini manfaat dari rokok dengan berbagai macam alasan. Padahal manfaat dari merokok itu hanya sekedar alasan kejiwaan baginya. Misalnya kalau habis makan dia merokok maka mulutnya terasa nikmat. Atau ketika merokok ide-ide bermunculan di kepalanya dll. Intinya seluruh kebenaran fiktif sudah bertumpuk dalam sistem pikirannya, dan dirinya merasa benar walaupun salah.

Kalau tidak percaya, coba saja berikan alasan kepada para perokok untuk berhenti merokok. Pasti mereka akan membantah dengan lebih banyak lagi alasan. Semakin dibantah dan dengan banyak argumen, maka yang terjadi adalah semakin lebih banyak lagi mereka memberi argumen. Hal ini dalam psikologi disebut mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang menghindarkan kita dari rasa “sakit” atau rasa “malu” bahwa kita sebenarnya salah.

Apalagi tahun politik di Indonesia saat ini, banyak orang seolah kehilangan kemampuannya untuk berpikir kritis. Masing-masing kubu pendukung kehilangan akal sehatnya. Jika kita memberikan fakta objektif tentang kebaikan lawan kubu mereka dan keburukan kubunya, maka hal itu sama sekali tidak akan mempengaruhi para pendukung fanatiknya. Tidak akan ada yang terpengaruh. Fakta-fakta tidak akan mengubah argumen mereka. Sekeras apa pun faktanya, tidak ada gunanya.

Fenomena ini merupakan hal baru di Indonesia, namun sudah diteliti sejak 1956 oleh Leon Festinger, psikolog sosial dari Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat. Intinya, setiap orang (tidak hanya para pendukung fanatik) dalam situasi tertentu bisa berhenti “berpikir kritis”. Umumnya untuk mencapai sebuah kesimpulan, seseorang akan mencari bukti-bukti memperkuat dugaannya. Pada proses ini, ketika orang itu menemukan satu saja “bukti” mendukung. Orang yang tidak terbiasa berpikir kritis akan mengizinkan otak mempercayainya bahkan ketika yang disebut “bukti” ini sebenarnya hoax, setengah hoax, desas-desus, atau berita belum terkonfirmasi. Tidak masalah, begitu otak memberikan “ijin”, atau akses, maka orang ini akan percaya 100%. Fenomena ini dinamakan “Motivated Reasoning”. Dinamakan demikian karena emosi dan motivasi mengalahkan fakta dan bukti-bukti empiris.

Baca Juga :