Khalifah al-Hakim (985-1021) dari Dinasti Fatimiyyah di Mesir

By | September 6, 2020

Revolusi Druze dan Kemerdekaan Suriah

Istilah Druze berasal dari nama pemimpin mereka Mohammad al-Darazi salah seorang murid Khalifah al-Hakim (985-1021) dari Dinasti Fatimiyyah di Mesir. Sebagian orang syiah tersebut kemudian membentuk sekte tersendiri bernama Druze. Mereka mulai mendiami Jabal al-Druze sejak abad ke-18 M.
Pada tahun 1923, para pemimpin Jabal al-Druze telah mencapai kesepakatan mengenai otonomi dengan otoritas Perancis. Mereka berharap memperoleh tingkat otonomi yang sama seperti saat berada dibawah pemerintahan Utsmani.
Masyarakat Druze diperintah oleh dewan tokoh, yang disebut majelis. Majelis memilih satu diantara mereka untuk menduduki jabatan eksekutif terbatas secara tradisional peran ini telah didominasi oleh keluarga al-Trash sejak tahun 1860 M. Akan tetapi tidak lama setelah kesepakatan dengan Perancis dibuat, Selim al-Atrash mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
Kekosongan kekuasaan menimbulkan perpecahan dalam keluarga al-Atrash, karena mereka saling merebut untuk menduduki posisi yang ditinggalkan Selim al-Atrash. Konflik internal menyebabkan majelis memilih orang luar untuk menduduki jabatan itu untuk sementara, dengan menunjuk seorang perwira Perancis bernama Kapten Charbillet. Meskipun awalnya ia hanya ditunjuk untuk memimpin selama tiga bulan, tetapi pada perkembangannya jabatannya diperpanjang tanpa batas waktu.
Kapten Charbillet memulai kepemimpinannya dengan melakukan modernisasi diberbagai bidang. akan tetapi dalam prosesnya ia menarik pajak secara penuh, melucuti persenjataan penduduk, dan menggalakan kerja paksa terhadap tahanan dan petani. Tentu saja kebijakan tersebut sangat memberatkan rakyat.
Sementara itu, Sultan Pasha al-Atrash anggota paling ambisius dari keluarga al-Atrash, mengirimkan delegasi ke Beriut. Delegasi ini diutus untuk menginformasikan kepada komisaris tinggi perancis, jendral Maurice Sarrail, bahwa kebijakan Kapten Carbillet bertentangan dengan sebagian besar penduduk Druze. Laporan itu tidak membuat Jendral bergeming, ia justru memenjarakan delegasi tersebut. Setelah kabar ini tersebar, penduudk Druze kembali mengalihkan dukungan mereka kepada keluarga al-Atrash yang pada tiutik ini mendukung Sultan al-Atrash dan memberontak melawan Perancis dan Majelis.
Pada tanggal 23 Agustus 1925, Sultan Pasha al-Atrashsecara resmi mendeklarasikan revolusi melawan Perancis. Ia memanggil berbagai etnis dan komunitas agama Suriah untuk melawan dominasi orang asing di tanah mereka. Sultan Pasha al-Atrash berhasil meminta bantuan dari sebagian besar gerakan pemberontakan di suriah, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Hasan al-Kharrat, Nasib al-Bakri, Abd al-Rahman shah bandar dan fauzi al-Qawuqji.
Meskipun demikian pertempuran sebenarnya telah dimulai sejak 22 Juli 1925, dengan ditandai meletusnya pertempuran al-Kafr. Kemudian pertempuran al-Mazra’a pada 2-3 Agustus 1925 dan dilanjutkan pertempuran salkhd, al-Musayfirah dan Suwayda.
Setelah serangkaian kemenangan pemberontakan, perancis mengirim ribuan tentara ke suriah dan lebanon dari maroko dan senegal, yang dilengkapi dengan persenjataan modrn. Hal ini secara dramatis mengubah hasil dan memungkinkan perancis untuk merebut kembali banyak meskipun perlawanan sengit berlansung hingga musim semi 1927.

Perancis menjatuhkan hukuman mati terhadap Sultan al-Atrash dan para pemimpin nasional lainnya.

akan tetapi sultan al-Atrash dan beberapa pemberontak melarikan diri ke Trans-Yordan yang akhirnya mereka di ampuni.
Memasuki periode 1929-1930, perancis kembali memecah wilayah suriah pada 23 Mei 1929 Lebanon berubah menjadi Republik Lebanon dan pada 22 Mei 1930 suriah berubah menjadi Republik Suriah. Kebijakan ini membuat suriah terpecah menjadi dua Republik, Lebanon dengan ibu kotanya di Beirut dan Suriah ibu kotanya di Damaskus.
Dimulai pada tahun 1930-an dan terus berlanjut hingga periode kemerdekaan, elitkonservatif Suriah menerima perlawanan dari perwira meliter muda dari latar belakang kelas menengah, berpendidikan akademi militer di Homs. Selain dari perwira militer, mereka juga memperoleh perlawanan dari golongan intelektual dan politisi berpendidikan Barat.
Ekspresi golongan muda yang paling berpengaruh adalah Harakat al-Ba’ath al-Arabi (Partai Kebangkitan Arab). Partai ini didirikan pada tahun 1940 oleh Michel Aflq dan Salah al-Din Bitar, dua guru sekolah dasar suriah yang pernah belajar di paris pada dekade 1930-an. Mereka mengembangkan doktrin kesatuan Arab, keadilan sosial, demokrasi anti-kolonialis dan kebebasan. Selain itu mereka juga mengembangkan perasaan religius Arabisme untuk menyegarkan semangat kebangsaan Arab.
Pada tahun 1949, mereka bergabung dengan Akram al-Hawrani, seorang agitator sosial dan penggerak sejumlah pemberontakan di Homs. Selain itu, ia juga merupakan konspirator yang memiliki jaringan di tubuh militer.
Konflik antara generasi tua dan elit pejabat militer baru dan kalangan intelegensia semakin memanas pada akhir 1940-an. Serangkaian kekalahan Perancis pada perang dunia II akhirnya mengantarkan pada pembentukan sebuah rezim Suriah yang merdeka pada 24 Oktober 1945. Seiring dengan kemerdekaan suriah pasukan perancis juga meninggalkan wilayah itu. Pasukan terakhir Perancis meninggalkan Suriah pada 17 April 1946. keluarnya Perancis dari Suriah menjadi penanda merdekanya rakyat dari pendudukan bangsa Barat yang diakui secara internasional.


Sumber: https://vds.co.id/