Konsep Lebenswelt (Dunia – Kehidupan)

By | September 26, 2019

Konsep Lebenswelt (Dunia – Kehidupan)

Konsep Lebenswelt (Dunia – Kehidupan)

Konsep Lebenswelt (Dunia – Kehidupan)

Ilmu sosial dalam fenomenologi Husserl selalu terkait dengan konsep “Lebenswelt” (Dunia-Kehidupan). Dengan fenomenologinya Husserl berusaha untuk membangun suatu metode baru dalam ilmu sosial. Sehingga Ilmu tidaklah merupakan tujuan yang melekat pada dirinya sendiri, melaikan harus dipandang secara fungsional sebagai bagian dari kebijaksanaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan serta untuk menguasai alam. Jadi Ilmu tidak lagi dipandang sebagai deskripsi mengenai kenyataan yang lebih dalam, yang dapat dipandang sebagai pembatasan terhadap dunia tempat manusia hidup sehari-hari. Karena apabila ilmu dijadikan sebagai batas pandang dari realitas, maka kehidupan manusia adalah tidak ubahnya sebuah kehidupan mekanik yang dikontrol oleh ilmu-ilmu tersebut.
Lebenswelt adalah aliran kehidupan langsung yang belum kita refleksikan, medan multiformitas pengalaman, proses hidup yang senantiasa berdenyut dan kita alami namun tidak sangat jelas bentuknya, nyaris terselubung karena kompleksitasnya. Lebenswelt ini adalah dunia eksistensial dan eksperiensial nyata yang mendahului pemilahan abstrak subyek- obyek beserta segala konstruksi ilmiah ikutannya. Karena dunia kehidupan adalah suatu dunia yang penuh definisi dan definisi itu bersifat abstraksi, maka tugas dari fenomenologi adalah sebagai deskripsi atas sejarah Lebenswelt tersebut untuk menemukan endapan makna yang merekonstruksi kenyataan sehari-hari.
Tawaran Husserl Terhadap Realitas
Dengan metode epoche-eidetic vision dan lebenswelt Husserl mencoba untuk menawarkan bagaimana memahami sebuah realitas secara murni, karena adanya kecenderungan realitas tersebut tersembunyi oleh teori-teori yang telah berkembang sebelumnya. Hal ini dikarenakan realitas itu senantiasa dipengaruhi oleh pengalaman inderawi yang cenderung terikat oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, agar esensi dari realitas itu dapat terbaca, maka fenomenologi berusaha mengungkapkan esensi dari realitas tanpa memisahkan esensi tersebut dari fenomenanya dengan cara melepaskan segala pikiran dan pengalaman inderawi yang mempengaruhinya. Jadi yang terpenting dalam fenomenologi adalah mempelajari apa sebenarnya yang dihadapi tanpa membiarkan faktor apapun melakukan intervensi dan menjauhkannya dari usaha melakukan analisis langsung terhadap esensi.
Konsep reduksi fenomenologis secara konstan muncul berulang-ulang dalam karya Husserl. Perumusan akhir dari konsep tersebut dalam fase terakhir karya-karyanya menciptakan ruang bagi perbedaan interpretasi. Rupanya Husserl tidak berhasil mencapai sebuah rumusan yang jelas dan tak ambigu dalam pemikiran akhirnya atas konsep tersebut. Sebagaimana yang dilihat Husserl, fenomenologi bercita-cita untuk menjadi sebuah metode yang darinya kita bisa memunculkan kebenaran-kebenaran yang tak terbantahkan; sebuah metode yang akan membawa kita ke akar, ke dasar dari yang tak terbantahkan. Perbincangan kita mengenai realitas memiliki landasan dan akar hanya sejauh dalam perbincangan tersebut sebuah realitas yang pasti muncul. Perbincangan yang berakar mengimplikasikan sebuah gerak kembali ke benda-benda dan tindakan-tindakan itu sendiri. Perbincangan kita berakar dalam dan mendapatkan justifikasinya yang mendasar dan absolut dalam realitas partikular yang muncul dalam perbincangan itu.
Husserl mengawali penelitian filosofisnya dengan sebuah penyelidikan atas hakekat realitas matematis yang membawanya ke sebuah pengujian atas filsafat yang dominan pada masanya. Ini pada saatnya membawanya ke penemuan atas kekeliruan psikologisme. Untuk keluar dari labirin psikologisme, dia lalu membaca Brentano, salah seorang dari sangat sedikit pemikir anti-psikologismik pada masanya. Di sini dia menjadi akrab dengan konsep intensionalitas, yang bertentangan dengan pengajaran Brentano, dia anggap sebagai esensi dari pengetahuan dan kesadaran. Mengetahui sesuatu, menyadari sesuatu, secara hakiki berarti menemukan diri kita sendiri sedang mengarahkan diri, berarti menemukan diri kita terarah ke suatu realitas yang bukan kesadaran atau pengetahuan itu sendiri. Menjadi sadar berarti menjadi melampaui kesadaran ini dengan suatu cara dimana realitas yang disadari itu bukanlah kesadaran itu sendiri. Dan kehadiran realitas yang dituju inilah yang secara hakiki menentukan persoalan kebenaran dan kepastian.
Bentuk pertama dari reduksi yang kita dapati dalam karya Husserl ialah reduksi yang “menempatkan di antara kurung” eksistensi faktual dari benda-benda yang ditampilkan dalam kesadaran. Apakah yang ditempatkan Husserl ke penundaan sementara dari semua penilaian mengenai eksistensi faktual atas realitas yang tampak? Untuk memahami ini kita haruslah ingat kelaziman problem kritis dalam filsafat abad kesembilanbelas. Persoalan kritis ini menanyakan eksistensi dari sebuah realitas yang akan secara nyata berkorespondensi dengan representasi (penampakan) yang ditangkap oleh suatu Cogito yang tertutup dan terisolasi. Dengan tujuan untuk memby-pass “lubang hitam” (quicksand) dari diskusi-diskusi ini, Husserl memperkenalkan konsep pengurungan. Fakta bahwa Husserl menempatkan di antara kurung hal-hal yang berkenaan dengan eksistensi aktual atas apa yang tampak nyata kepada kita, fakta bahwa dia menunda penilaian yang pokok atas realitas, fakta bahwa dia menolak untuk mengikatkan dirinya dengan sebuah pengkadian status ontologis atas benda-benda, semuanya secara jelas mengindikasikan dalam tingkatan tertentu bahwa Husserl sendiri masih merupakan korban dari mitos Cogito yang secara keras hendak dia lawan (De Waelhens).
Hanya dalam sebuah kerangka kerja filosofislah, di mana Cogito dilihat sebagai terisolasi dan terbungkus, dapat ditempatkan sebuah keraguan mengenai eksistensi faktual atas benda-benda. Husserl gagal untuk melihat pada saat itu bahwa konsep intensionalitas yang secara orisinal telah dia rumuskan telah menghalangi kemungkinan suatu reduksi fenomenologis yang dirancang untuk mengurung eksistensi faktual dari obyek-obyek dunia kita.
Jika kesadaran itu sungguh-sungguh bersifat intensionalitas, maka tak ada pertanyaan yang mungkin bisa muncul mengenai realitas dunia yang menjadi arah bagi kesadaran; lebih baik kita katakan bahwa tanpa dunia yang secara faktual ada, kesadaran tak dapat menjadi bersifat apa yang disebut sebagai intensionalitas. Dalam karya Husserl terdapat sebuah perkembangan gradual dimana nilai dari prosedur pengurungan menjadi semakin dan semakin berkurang, sementara nilai dari reduksi fenomenologis menjadi semakin besar dan besar lagi. Kecenderungan ini menunjukkan sebuah perkembangan yang di dalamnya reduksi mendapatkan sebuah nilai baru. Ini tidaklah berarti Husserl memelencengkan diri dari maksud pokoknya atas fenomenologi; dia hanya melanjutkan untuk melihat fenomenologi sebagai sebuah metode yang akan membawa kita kepada hal yang tak terbantahkan melalui jalan kembali ke benda itu sendiri.
Adalah benda-benda itu sendiri yang dengan serta-merta dapat ditangkap dalam pengalaman kita. Walaupun begitu, Husserl kemudian memahami bahwa konsepsi yang ada mengenai pengalaman berjalan bertentangan dengan konsepsinya sendiri. Dalam konsepsi Husserl, pengalaman itu ialah kehadiran kepada benda-benda itu sendiri. Hanya manakala pengalaman itu dilihat dengan cara demikian, pengalaman dapat diperlakukan sebagai sebuah dasar yang di atasnya segenap pernyataan yang benar dapat secara aman diletakkan. Pemahaman populer atas pengalaman sebagaimana yang Husserl lihat dalam peralihan abad merupakan konseptualisasi yang sangat terdistorsi yang dibuat untuk sesuai dengan apa yang disebut sebagai pandangan yang ilmiah atas manusia dan dunia. Karena itu, reduksi fenomenologis dapat secara pokok dianggap sebagai sebuah instrumen dimana kita bisa menyaring keluar pengaruh-pengaruh yang mendistorsi dari prasangka-prasangka kultural dan saintifik.
Evolusi pemikiran Husserl dalam hal ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa rumit dan rumusan akhir dari evolusi tersebut sama sekali tidak sepenuhnya terang. Merleau-Ponty-lah yang mengklarifikasi tahap-tahap akhir dari pemikiran Husserl ini. Pada saat fenomenologi dilihat sebagai sebuah upaya untuk menyingkapkan dasar-dasar filsafat, pada saat fenomenologi dilihat sebagai sebuah metode yang melalui itu kita dapat mencapai landasan kebenaran yang tak terbantahkan, maka fenomenologi haruslah melepaskan topeng segenap prasangka filsosofis yang berkaitan dengan kodrat kesadaran. Pelepasan topeng ini berada di balik penyebutan-ulangnya (re-instatement) atas pengalaman aktual sebagaimana yang dialami, yang disebut sebagai kehadiran pada dan penyingkapan dari dunia-yang-kualami.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/