Pelajaran PMP Sebaiknya Sejak SD

By | September 29, 2019

Pelajaran PMP Sebaiknya Sejak SD

Pelajaran PMP Sebaiknya Sejak SD

Pelajaran PMP Sebaiknya Sejak SD

BANDUNG -Wali Kota Bandung Ridwan kamil mengaku prihatin karena mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Karena itulah dia berharap pancasila jangan jadi pemadam kebakaran saja.

“Pendidikan Pancasila itu harus dimulai sejak pendidikan dasar yakni di sekolah dasar. Saya prihatin karena saat ini tidak ada porsi dalam pendidikan kurikulum nasional di sekolah,”tegas Ridwan Kamil saat menjadi inspektur upacara peringatan Pancasila di Balai Kota Bandung, kemarin (1/6).

Dia menitipan bahwa pancasila jangan jadi pemadam kebakaran

. Dimana ada permasalahan bangsa, lalu rindu dengan kehadiaran pancasila.

“Masa kita baru rindu setelah ada problem yang timbul. Kita baru diskusi, kita baru mencari, padahal seharusnya ada atau tidak ada problem kita perkuat keberadaan pancasila ini,”tegasnya.

“Saya generasi yang ada mata pelajarannya di sekolah yakni PMP/PPKn. Bosan gak bosan, tetap nempel di kepala berbeda dengan anak-anak sekarang.”sambung kang Emil sapaan Ridwan Kamil.

Maka dari itu lanjutnya, kota Bandung Bandung sendiri mem back up

dengan program Bandung Masagi sebab disitu tertera bela negaranya. Namun demikian tetap tidak akn cukup. Karena hanya upaya pemerintah kota Bandung yang seharusnya di perkuat nasional.

“Jadi kalo saya boleh petisi ke pemerintah nasional tolong hadirkan lagi pendidikan pancasila. Soal bentuknya terserah, tapi itu kekurangan yang terjadi di pendidikan anak SD dan SMP. Saya dapat kabar, anak-anak yang terpengaruh oleh Pilkada Jakarta waktu lalu. Misalnya anak-anak jadi membenci etnis tertentu, dan memberikan sesuatu yang layak untuk disampaikan sesama anak-anak usia SD. Istilah kafir itu sudah masuk ke dalam kosa kata anak SD,”terang emil.

Untuk menekan hal tersebut di kota Bandung sendiri sudah menginstruksikan kepada seluruh masjid

di kota Bandung agar ketika menyampaikan ceramah atau tausiah itu yang ramah.

Jangan ada penceramah yang menyampaikan kata-kata yang menimbulkan kebencian. Penceramah itu seharusnya mengajak pada kebaikan bukan kebencian.

“Di Kota Bandung kini terasa tenang karena program subuh berjamaah dan magrib mengaji, menjadi instrumen untuk mendekatkan diri pada Tuhannya. Namun tetap saya peseankan ceramah yang ramah agar terhindar dari radikalisme yang dianggap bibit dari terorisme,”tutup Kang Emil.

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/