Penguatan Karakter Religius Siswa Melalui Ekstrakurikuler, Mendikbud Adopsi Kebijakan Pemkab Siak

By | October 12, 2019

Penguatan Karakter Religius Siswa Melalui Ekstrakurikuler, Mendikbud Adopsi Kebijakan Pemkab Siak

Penguatan Karakter Religius Siswa Melalui Ekstrakurikuler, Mendikbud Adopsi Kebijakan Pemkab Siak

Penguatan Karakter Religius Siswa Melalui Ekstrakurikuler, Mendikbud Adopsi Kebijakan Pemkab Siak

Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang akan

menghilangkan pelajaran agama di sekolah telah memunculkan polemik. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengingatkan Mendikbud agar bijak mengeluarkan pernyataan.

Menanggapi polemik tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membantah akan menghapus pelajaran agama dalam program delapan jam belajar di sekolah dari Senin hingga Jumat pada tahun ajaran baru Juli 2017.

Upaya untuk meniadakan pendidikan agama tidak ada dalam agenda reformasi

sekolah sesuai arahan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud Ari Santoso mengatakan, sekolah dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan karakter yang sesuai nilai karakter utama religiusitas atau keagamaan. Hal ini kata dia sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2017.

Menurutnya, Mendikbud mencontohkan penerapan penguatan pendidikan karakter yang diterapkan beberapa pemerintah kabupaten seperti Pemerintah Kabupaten Siak, Riau, yang memberlakukan pola sekolah sampai pukul 12 lalu dilanjutkan dengan belajar agama bersama para ustaz. Dia menambahkan, Mendikbud juga menyampaikan pola yang diterapkan Kabupaten Pasuruan. Seusai sekolah, siswa belajar agama di madrasah diniyah.

Dia menilai pernyataan Mendikbud sudah sesuai Pasal 5 ayat 6 dan ayat 7 Permendikbud

tentang Hari Sekolah yang mendorong penguatan karakter religius melalui kegiatan ekstrakurikuler.

”Termasuk di dalamnya kegiatan di madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, retreat, katekisasi, baca tulis Alquran dan kitab suci lainnya,” terangnya.

MUI Minta Mendikbud Bijak

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritisi munculnya wacana penghapusan pendidikan agama di sekolah. Alasan penghapusan pendidikan agama karena nilai untuk rapor siswa akan diambil dari pendidikan di madrasah diniyah, masjid, pura, atau gereja.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/Prjd/history-of-sports-football