Peningkatan pendapatan perkapita harus berlangsung dalam jangka panjang

By | July 12, 2020

Peningkatan pendapatan perkapita harus berlangsung dalam jangka panjang

Suatu perekonomian dapat dinyatakan dalam keadaan berkembang apabila pendapatan perkapita dalam jangka panjang cenderung meningkat. Hal ini tidak berarti bahwa pendapatan perkapita harus mengalami kenaikanterus menerus. Misalnya, suatu negara terjadi musibah bencana alam ataupunkekacauan politik, maka mengakibatkan perekonomian negara tersebut mengalami kemunduran. Namun, kondisi tersebut hanyalah bersifat sementara yang terpenting bagi negara tersebut kegiatan ekonominya secara rata-rata meningkat dari tahun ke tahun.

Adapun definisi masalah masalah pembangunan ekonomi adalahmasalah bagaimana mengelola dan membangun kekayaan pada suatu negara untukkesejahteraan penghuninya

Adapun masalah masalah Pembangunan ekonmi di indonesia sebagai berikut;

1. Kemiskinan dan Kesenjangan Ekonomi.

Menurut catatan statistik pada tahun 1991/92, diperkirakan lebih dari 100 juta orang Indonesia yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Kalau dianggap tidak ada perbedaan garis kemiskinan antara kota dan desa, dan diambil angka Rp.1000 pengeluaran sehari seorang (atau Rp. 30,000 sebulan seorang) sebagai garis kemiskinan, maka di bawah garis tersebut ada 120 juta yang masih miskin, yaitu di kota 20 juta dan di desa 100 juta orang. Kalau diambil garis kemiskinan yang lebih rendah, yaitu Rp. 500 sehari seorang (atau Rp. 15,000 sebulan seorang), maka akan terdapat 28 juta orang miskin, yaitu 2 juta di kota dan 26 juta di desa.

Pengeluaran ini belum termasuk untuk pendidikan dan kesehatan. Belum lagi, kalau diperhitungkan untuk suatu keluarga yang terdiri dari 4 orang. Tentu pengeluarannya sehari jauh lebih besar daripada sekedar 4 kali Rp. 30,000. Keadaan sekarang diperkirakan tidak berbeda jauh dari itu. Data bisnis juga menunjukkan kesenjangan ekonomi yang sangat besar antara mereka yang miskin di atas dengan yang kaya raya. Grup-grup perusahaan yang tergabung dalam 200 konglomerat Indonesia menghasilkan omset (nilai penjualan) sebesar ekivalen dengan 80 persen dari pendapatan nasional (Produk Domestik Bruto, sekitar Rp. 250 trilyun pada 1992/93).

Kesenjangan pendapatan juga terjadi antara sektor pertanian-pedesaan dan sektor industri-perkotaan. Kesenjangan yang sangat tajam juga terjadi antara Jawa dan Luar Jawa, dan antara Kawasan Indonesia Timur dan Kawasan Indonesia Barat. Masalah kemiskinan dan kesenjangan ini bisa menimbulkan friksi-friksi sosial yang bisa merusak hasil pembangunan selama ini.

Masalah Hutang Luar Negeri

Hutang luar negeri telah meningkat sangat besar. Pada saat ini Indonesia telah menjadi negara penghutang terbesar nomor tiga sesudah Brazil dan Meksiko, yaitu dengan hutang mencapai lebih dari USD 100 miliar. Lebih dari 60 persen di antaranya adalah hutang dari pemerintah, selebihnya hutang swasta. Dibanding dengan hutang asing yang dibuat pada rezim Bung Karno, yang mencapai USD 2.14 miliar, hutang asing sekarang merupakan peningkatan 50 kali; padahal pendapatan nasional hanya naik tidak lebih dari 15 kali.

Dengan kemajuan-kemajuan ekonomi yang dicapai di sektor pemerintah, mungkin Indonesia tidak terlalu sulit di dalam membayar kembali hutang asing tersebut sebesar USD 9-10 setiap tahun. Akan tetapi untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 5-6 persen setahun, Indonesia terpaksa harus meminjam lagi hutang asing baru sebesar minimum USD 5 milyar setiap tahun. Hutang baru sebesar itu pun terpaksa harus dibuat melihat sisi neraca pembayaran yang tidak seimbang, karena ketidakmampuan ekonomi (industri) menghasilkan cukup devisa. Dengan demikian, ekonomi Indonesia telah seakan-akan “terperangkap” atau“kecanduan” (addicted) dengan hutang asing. Persoalan yang tidak pernah bisa dijawab tentang hutang luar negeri ini adalah kapan hutang asing itu semakin mengecil dan bisa habis terlunasi. Kecuali, kalau hutang baru sangat dikurangi atau dihentikan samasekali, dan dicari sumber-sumber dari dalam negeri sebagai penggantinya. Persoalan hutang asing ini menjadi semakin besar apabila dikaitkan dengan Yendaka (apresiasi Yen), di mana Yen mempunyai porsi besar dalam hutang-hutang Indonesia.

https://haciati.co/