Teori-teori identitas

By | August 27, 2019

Table of Contents

Teori-teori identitas

Teori-teori identitas

Teori-teori identitas

Identitas merupakan satu unsure kunci dari kenyataan kenyataan subyektif dan, sebagaimana semua kenyataan subyektif, berhubungan secara dialektis dengan masyarakat. Identitas dibentuk oleh proses-proses sosial. Begitu memperoleh wujudnya ia, ia dipelihara, di modifikasi, atau malahan dibentuk  ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Proses-proses sosial yang terlibat dalam membentuk dan mem,pertahankan identitas ditentukan oleh struktur sosial. Sebaliknya identitas yang dihasilkan oleh interaksi antara organism, kesadaran individu, dan struktur sosial bereaksi terhadap struktur sosial yang sudah diberikan, memeliharanya, memodifikasinya, atau malahan memmbentuknya kembali. Masyarakat mempunyai sejarah, dan didalam perjalanan sejarahnya itu  muncul identitas-identitas khusus, tetapi sejarah-sejarah itu dibuat oleh manusia dengan identitas-identitas tertentu.

Apabila kita selalu ingat akan dialektika ini maka kita akan dapat menghindari pengertian sub specie aelernitatis, dari  eksistensi individu. Struktur-struktur sosial historis tertentu melahirkan tipe-tipe identitas , yang bise dikenali dalam kasus-kasus individual. Dalam pengertian ini kita bisa mengatakan bahwa seorang Amerika memiliki identitas yang berbeda dengan seorang Perancis, seorang warga New York mempunyai identitas berbeda dengan seorang warga dari bagian Barat Tengah, seorang eksekutif mempunyai identitas berbeda dengan seorang gelandanagn dan seterusnya. Seperti telah kita lihat , orientasi dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari tergantung pada tipifikasi-tipifikasi seperti itu. Ini berarti bahwa tipe-tipe identitas bisa diamati dalam kehidupan sehari-hari.

Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dan masyarakat. Sebaliknya tipe-tipe identitas merupakan produk-produk sosial semata-mata, unsure-unsur yang relative stabil dari kenyataan ssosial obyekktif (yang tingkat stabilitasnya, dengan sendirinya, pada gilirannya ditentukan secara sosial). Dengan demikian tipe identitas itu merupakann pokok dari suatu bentuk kegiatan berteori dalam tiap masyarakat, sekalipun tipe-tipe itu stabil dan pembentukan identitas-identitas individu relative tidak menimbulkan masalah. Teori-teori tentang identitas selalu berakar dalam penafsiran yang lebih umum tantang penafsiran yang lebih umum tentang kenyataan, teori – teori ”dipasang dalam” universum simbolik dan legitimasi-legitimasi teoretisnaya, serta bervariasi tentang sifat yang disebut balakangan. Identitas tetap tak bisa dipahami kecuali jikaia berlokasi dalam suatu dunia. Karena itu, setiap kegiatan  teori tentang identitas dan tipe-tipe identitas tertentu harus dilakukan di dalam kerangka tafsiran-tafsiran teoritis dimana identitas dan tipe-tipe identitas itu berada. Apabila teori-teori identitas selalu brerakar dalam teori-teori yang lebih konprehensif tentang kenyataan maka itu harus dipahami menurut logikayang mendasari apa yang disebut belakangan itu. Misalnya suatu psikologi yang menafsirkan tentang fenomena-fenomena empiris tertentu sebagai kemasukan roh jahat mempunyai-sebagai matrisnaya-sebuah teori mitologisn melalui kosmos , dan tidaklah pada tempatnya untuk menafsirkan dalam suatu kerangka non mitologis.

Suatu penekanan terhadap penampakan luar telah menunjukkan pentingnya penampilan-cara cara objek , tempat atau orang menghadirkan dirinya atau dihadirkan. Karena penampilan dirancang untunk beraneka ragam konteks atau tujuan maka akan menjadi terpecah – pecah atau ephemeral. Penampakan pada penampakan luar memperlihatkan bahwa makna-makna (dari objek , tempat, atau orang) tidaklah stabil dan oleh sebab itutergantung pada kesewenag-wenangan persepsi dan prenggunaan. Dalam hal ini tampak juga telah terjadi perubahan selam tahun-tahun terakhir era modern pada landasan sosial utama dari identitas. Saat ini muncul perasaan yang menyebar luas mengungat kerja ataupun jabatan secara tradisional menentukan kelas sosial dan begitu pula cara hidup seseorang, pada paruh kedua abad ini aktivitas-aktivitas waktu luang dan atau kebiasaan konsumen semakinbanyak dialami oleh individu-individu sebagai basis identitas sosial mereka. Apabila proses konsumsi merupakan pembentukan makna, maka siapa kita secara reflektif terbentuk dalam upaya proses upaya tersebut sebanyak apakah upaya tersebut (Keller 1992; lihat juga esai mengenai “ruang-ruang diri dan masyarakat” dalam kumpulan yang sama). Hal ini merupakan bagian dari yang dimaksud dengan gagasan refleksifitas bahwa entitas-entitas sosial  seperti para actor dan gaya-gaya dilekati karakter khusus melalui tata cara atau sikap mereka, sehingga seharusnya tidak mengherankan bahwa isu-isu identitas (baik personal maupun kolektif ) – formasi, stabilitas, dan perubahannya telah menjadi perhatian utama bagi praktik gaya hidup (untuk suatu pandnagan yang lebih kritis mengenai pentingnya desstabablisasi identitas-identitas dala konsumerisme massa , lihzat Warde 1994)

Sejaln dengan itu identitas-identitas personal dibuat menjadi kurang stabil dan koheren dalam suatu budaya, yang didalamnya makna dari objek-objek dan praktik-praktik secara terus-menerus diciptakn kembali. Alasan untuk mengaskan pentingnya hubungan adalah bahwa jika hal-hal yang kita gunakan atau terapkan adalah tidak terduga, maka setidaknya bagian apa dari mereka , objek-objek yang akan diambil untuk memaknai , tergantung pada siapa yang menggunakannya dan bagaimana digunakannya. Dan, dengan cara yang sama siap kita sebagai pemain aktif dalam permainan konsumsi (the game of consumption) terbentuk dan ditampilakan melalui bagaiman kita memanfaatkan sumber daya-sumberdaya dalam permainan. Ini merupakan hubungan simbiotik yang telah menyebabkan para sosiolog percaya bahwa mereka dapat membac kembali dari pola-pola konsumsi dan aktivitas waktu luang untung jawaban terhadap “pertanyaan-pertanyaan yang sanagat penting mengenai pertanyaan yang teramat penting mengenai apa yanag kita percaya dan yang kita pikirkan, bagaiman kita sampai pada kepercayaan kita, apa yang kita lakukan dan bagaimana tindakan kita mengekspresikan kepercayaan atau nilai-nilai tertentu” (tomilison 1990:5;dalam cara-cara yang berbeda -beda)berapa esai dalam kumpulan inin mrnyentuh kelunturan identitas dalam budaya konsumen ;  lihat jika diskusi yang menyeluruh dalam Finkelstein 1991)

Disampiung argument teoritis tersebut , seyogyanya menunjuk pada dua tren selanjutnya yang lebih empiris , untuk menghubungkan dalam identitas,identitas budaya konsumen denagn gagasan identitas personal. Yang pertama dapat disimpulakan dari cara-cara berpartisipasi lebih public, komunal, dan klektif dalam peristiwa-peristiwa budaya kea rah cara-cara partisipasi kearah yang lebih privat dan personal, suatu proses yang dilukiskan sebagai penyebaran waktu luang

Sumber : https://uptodown.co.id/