Unika Atma Jaya Dukung Wacana Pengurangan SKS

By | August 18, 2019

Unika Atma Jaya Dukung Wacana Pengurangan SKS

Unika Atma Jaya Dukung Wacana Pengurangan SKS

Unika Atma Jaya Dukung Wacana Pengurangan SKS

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir

menyampaikan akan mengurangi atau melakukan pemangkasan terhadap satuan kredit semester (SKS) program sarjana dan diploma. Namun berapa jumlah SKS yang akan dipangkas masih dikaji oleh Kemristekdikti.

Rektor Univeristas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasentyantoko menyambut baik wacana tersebut. Ia menilai jumlah 144 SKS yang dibebani mahasiswa untuk program sarjana dan diploma 120 SKS yang diterapkan saat ini dinilai tidak efektif karena banyak terjadi pengulangan.

Menurut dia, dengan pengurangan SKS, mahasiswa punya lebih banyak waktu untuk praktik

yang selama ini tidak dimaksimalkan. Padahal, program sarjana seharusnya mahasiswa diarahkan untuk memiliki skill untuk mengaplikasikan teori yang pelajari. Pasalnya, minim praktik secara otomatis mahasiswa akan menjadi pengangguran.

“Saya setuju karena selama ini mahasiswa dibebani oleh materi pembelajaran karena setelah lulus mahasiswa hanya mengingat 20 hingga 30 persen saja materi yang dipelajari, itupun sudah bagus. Jadi dengan pengurangan SKS maka waktu untuk praktik lebih panjang dan mahasiswa lulus memiliki skill sehingga secara otomatis mengurangi angka pengangguran,” kata Prasentyantoko pada Konferensi Pers Catatan Akhir Tahun 2018 Unika Atma Jaya Catatan Akhir Tahun dan Atma Jaya Award di Unika Atma Jaya, Jakarta, Jumat (7/12).

Pasalnya, seperti diketahui berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2018

, pengangguran terdidik masih cukup tinggi. Tercatat untuk pengangguran lulusan D1-D3 mencapai 6,02 persen. Sedangkan, pengangguran lulusan S1 mencapai 5,89 persen. Pengangguran lulusan S1 jumlah meningkat dibandingkan Agustus 2017 yang sebesar 5,18 persen.

Prasetyantoko juga menambahkan, jumlah SKS yang panjang selama ini berdampak pada semakin lamanya jadwal kelulusan mahasiswa karena mahasiswa harus selalu berada di kelas untuk menyelesaikan SKS. Setelah itu ditambah praktik lapangan.

Menurut dia, pengurangan SKS pada era Revolusi Industri 4.0 ini sangat tepat, sehingga adanya revisi kurikulum pendidikan tinggi. Yakni, pembelajaran yang ditawarkan harus sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Dalam hal ini, perguruan tinggi harus mengedepankan sistem pembelajaran yang fokus pada kemampuan dasar karena banyak pekerjaan di era ini digantikan dengan mesin dan robot. Maka, kecakapan soft skill sangat diperlukan. Hal ini dapat dimulai dengan meredefinisi Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang mengarahkan kecakapan soft skills.

“Sehingga kompetensi dari manusia itu harus dinaikkan kepada pengambil keputusan, mendesain, planning, kemampuan kreativitas, karena itu tidak akan bisa di-take over oleh mesin, tetapi kalau keterampilan yang teknis dan repetitif itu akan di-take over oleh mesin,” jelasnya.

Selanjutnya, Prasetyantoko juga mengatakan, Temasek dan Google memprediksi pertumbuhan ekonomi internet indonesia pada 2018 mencapai USD 27 miliar dan diprediksi akan terus tumbuh mencapai USD 100 miliar pada 2025.

 

Sumber :

https://daftarpaket.co.id/